Pengaruh Bahasa Sinetron Dan Medaia Masa Terhadap Bahasa Indonesia


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat tuhan yang maha kuasa karena atas kebesaran rahmat-Nya sehingga makalah yang berjudul “Pengaruh Bahasa Sinetron Dan Medaia Masa  Terhadap Bahasa Indonesia” dapat terselesaikan sebagaimana mestinya.

Penulis mengambil judul tersebut karena melihat terlalu banyaknya bahasa indonesia yang terkontaminasi oleh bahasa sinetron yang berkiblat pada bahasa asing  yang cenderung kasar dan dapat merusak norma kesopanan yangdi miliki oleh bangsa  indonesia.

Penulis menyadari bahawa dalam penulisan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan. Hal ini karena minimnya literatur yang menjadi panduan dalam penulisan. Untuk itu segala kritik dan saran yang sifatnya membangun, sangat penulis harapkan demi kemajuan penulisan makalah berikutnya.

Demikian penulisan makalah ini, semoga dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis khusunya.

Jayapura, 23 Mei2009

Penulis

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Pemberlakuan pasar bebas di berbagai kawasan dunia merupakan salah satu wujud tatanan kehidupan dunia yang baru, globalisasi. Sebetulnya, globalisasi telah lama berlangsung, berabad-abad yang lalu, ketika menusia dapat menciptakan alat komunikasi, seperti telepon dan kini teknologi informasi itu telah berkembang amat pesat.

Dalam keterbukaan seperti itu bahasa menjadi sangat penting bagi kelangsungan eksistensi satu bangsa, baik sebagai lambang jati diri maupun sebagai sarana komunikasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Tetapi pada kenyataannya Bahasa Indonesia sudah dicemari oleh bahasa sinetron atau bahasa-bahasa media masa. Bahasa-bahasa sinetron ini sering juga disebut bahasa gaul. Penulis sering kali berfikir betapa pintar dan kreatifnya para pemuda Indonesia ini dalam menciptakan bahasa. salah satu contoh bahasa yang sempat beredar : “ya iyalah.. masak ya iya donk”, “EGP Emang Gua Pikirin”, dan lain-lain, masih banyak lagi bahasa-bahasa “gaul” yang sudah beredar bebas di masyarakat. Akibatnya, cara bicara kepada orang yang lebih tua menjadi tidak sesuai dengan budaya bangsa indonesia yang menjunjung tinggi kesopanan.

B. TUJUAN PENULISAN

Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk memenuhi tugas akhir pada mata kuliah bahasa indonesia. Selain itu, agar penulis lebih memahami tentang penulisan ilmiah dan tata cara pembuatannya.

C. MANFAAT PENULISAN

Manfaat dari penulisan makalah ini agar pembaca pada umumnya dapat memahami tantang bahaya dari bahasa  yang digunakan dalam sinetron. Bahasa sinetron cenderung menggunakan kata-kata “gaul” dan kasar. jika hal ini dibiarkan, di khawatirkan generasi muda Indonesia akan kehilangan jati diri sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kesopanan.

BAB II

PEMBAHASAN

A. PENTINGNYA BAHASA INDONESIA

Dalam kehidupan sehari-hari mulai dari interaksi intrapersonal, interpersonal, maupun yang meluas pada kehidupan berbangsa dan bertanah air, bahasa memegang peran utama. peran tersebut meliputi bagaimana proses mulai dari tingkat individu hingga suatu masyarakat yang luas memahami diri dan lingkungannya. sehingga pada saat inilah fungsi bahasa secara umum, yaitu sebagai alat untuk berekspresi, berkomunikasi, dan alat untuk mengadakan integrasi dan adaptasi sosial, memberikan perannya.

Di Indonesia, bahasa Melayu telah menjadi bahasa yang penting. Peran bahasa Melayu meliputi bahasa persatuan, bahasa nasional, dan bahasa pengantar dalam pendidikan. Menurut Koentjaraningrat, pemilihan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia secara historis dikarenakan enam hal. Pertama, ber­kem­bangnya suasana kesetiakawanan yang mencapai momentum puncak yang menjiwai pertemuan antara pemuda cende­kiawan Indonesia yang penuh idealisme pada tanggal 28 Oktober 1928. Kedua, adanya anggapan bahwa bahasa Melayu sejak lama me­rupakan lingua franca, ba­hasa perdagangan, bahasa komunikasi antarorang Indonesia yang melintas batas sukubangsa, dan bahasa yang digunakan untuk pe­nyiaran agama. Ketiga, adanya pengaruh media massa dalam bahasa Melayu. Keempat, berkembangnya ke­biasaan penggunaan bahasa Me­layu dalam rapat-rapat organisasi gerakan nasional. Kelima, tidak adanya rasa khawatir dalam diri warga suku non-Jawa terhadap risiko terjadinya dominasi kebuda­yaan dari sukubangsa mayoritas. Keenam, karena para cendekiawan Jawa sendiri mengecam struktur bahasanya sendiri.

B. TANTANGAN PEMBENTUKAN BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA NASIONAL

Tantangan pembentukan identitas nasional melalui bahasa di Indonesia terdiri dari tantangan internal dan eksternal. Secara internal bahasa persatuan ini harus menghadapi realita bahwa Indonesia terdiri dari berbagai bahasa dan budaya. Sehingga dalam proses sosialisasinya bahasa Indonesia harus menuntaskan kegamangan antara menampilkan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang dapat digunakan seluruh masyarakat tanpa melenyapkan bahasa daerah. Hal ini diperumit dengan suatu kondisi dimana beberapa bahasa daerah terancam punah diakibatkan sosialisasi bahasa Indonesia yang tidak mengindahkan perawatan bahasa daerah sebagai bahasa ibu yang harus dilestarikan.

Tantangan pertama, yakni perkembangan bahasa Indonesia yang dinamis, tetapi tidak menimbulkan pertentangan di antara masyarakat. Pada saat bersamaan bangsa Indonesia sudah mencapai kedewasaan berbahasa. Sekarang tumbuh kesadaraan secara emosional bahwa perilaku berbahasa tidak terkait dengan masalah nasionalisme. Buktinya, banyak orang yang lebih suka memakai bahasa Asing. Tantangan kedua, yakni persoalan tata istilah dan ungkapan ilmiah. Tantangan kedua ini yang menimbulkan prasangka yang tetap diidap ilmuwan kita yang mengatakan bahwa bahasa Indonesia miskin, bahkan kita dituduh belum mampu menyediakan sepenuhnya padanan istilah yang terdapat dalam banyak disiplin ilmu, teknologi, dan seni.

Bahasa Indonesia juga harus menghadapi gempuran dari bahasa asing. Hal yang serupa dengan tantangan internal mengenai bahasa daerah, bahasa Indonesia oleh sebagian masyarakat dipandang tidak lebih prestise dibandingkan dengan bahasa asing. Hasilnya penggunaan kaidah bahasa Indonesia tidak banyak menjadi sorotan penting. Percampuran antara bahasa Indonesia dan bahasa asing menjadi sesuatu yang lumrah. Bahasa gaul mulai merebak di masyarakat, bahkan yang berpendidikan tinggi hingga pejabat dan media massa. Jika hal ini terus dibiarkan maka bahasa Indonesia akan menjadi minoritas dan punya istilah “tamu di rumahnya sendiri”.

Saat ini tantangan terhadap bahasa Indonesia, baik internal maupun eksternal, merupakan hal yang tidak hanya mengancam eksistensi bahasa Indonesia. Konsekuensi ancaman tersebut tidak hanya sebatas mengancam eksistensi bahasa Indonesia, namun menjadi sangat penting karena berkaitan dengan bahasa sebagai identitas dan kepribadian bangsa. Jika dihayati dari prosesnya, awalnya masyarakat merubah gaya bahasanya lalu mempengaruhi tingkah lakunya sehingga akan mengalami kegamangan norma dan kepribadian berkaitan dengan identitas sosial.

Selain tantangan-tantangan tersebut, permasalahan yang perlu mendapat perhatian dari semua pihak adalah bahasa yang di gunakan dalam sinetron. Gaya bahasa dalam sinetron dinilai merusak jati diri bangsa. Selain campur aduk, gaya bahasa sinetron juga dinilai tidak sopan.

Analisa menuturkan, bahasa merupakan cerminan kepribadian dan jati diri bangsa. Bahasa merupakan produk budaya yang terwujud dari nilai-nilai yang ada dalam masyarakat. gaya bahasa sinetron yang mencampuradukkan bahasa Indonesia dan bahasa asing menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap kepribadian dan kebudayaan bangsa. Saat ini, remaja dan anak-anak belum merasa gaul kalau belum bisa menyelipkan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya dalam percakapan.

Bahasa sinetron kita banyak yang salah digunakan pada tempatnya. Akibatnya masyarakat banyak yang meniru dengan berbagai motif seperti sekedar gaya atau ingin dikatakan modern.

Sejumlah guru Bahasa Indonesia menyebutkan contoh beberapa film dan sinetron Indonesia disiarkan umumnya televisi swasta yang kerapkali menggunakan bahasa yang dinilai “vulgar”, serampangan, kasar, dan tidak layak didengar terutama oleh anak-anak dan generasi muda bertaburan setiap saat. Jika di biarkan bukan saja akan merusak kaidah Bahasa Indonesia, tapi bahkan bisa membuat anak-anak kita menjadi berbahasa dan berperilaku buruk. Fenomena tingginya angka kriminalitas dan kenakalan remaja menjadi sebuah bukti dari kegamangan tersebut. Hal itu tidak terlepas dari pandangan manusia sebagai substansi dan manusia sebagai makhluk yang mempunyai identitas.

C. BAHASA PIJIN PADA ACARA TELEVISI

Bahasa Indonesia dewasa ini (terutama semenjak merebaknya stasiun televisi nasional dan daerah) mengalami penurunan dari segi mutu karena penggunaannya hampir tanpa kendali baik dari segi leksikal, gramatikal, maupun sosial. Peran media massa sangat besar dalam memberdayakan suatu bahasa menjadi bahasa yang bermartabat tanpa terlalu banyak dikendalikan oleh unsur-unsur bahasa lain.

Semenjak reformasi sistem perpolitikan di Indonesia, nasib bahasa Indonesia terancam oleh masuknya kosa-kata dan struktur bahasa asing dan bahasa daerah. Masuknya sistem bahasa lain ke dalam bahasa Indonesia hampir tanpa melalui proses penapisan sehingga dapat mengacaukan sistem bahasa Indonesia yang pada akhirnya dapat menggoyahkan kemampuan bahasa Indoneia sebagai penanda jati diri bangsa Indonesia. Pihak-pihak yang mempunyai peran sangat besar memajukan ataupun memundurkan bahasa Indonesia, antara lain, media massa, kaum terdidik, petinggi bangsa, dan tokoh masyarakat.

D. BAHASA KASAR

Bahasa sinetron. Hidup kita di Indonesia tidak didominasi oleh Jakarta, termasuk bahasa. Jika dicermati, tayangan televisi nasional banyak menggunakan bahasa Melayu-Jakarta. Percampuran kosakata Melayu-Jakarta dengan bahasa Indonesia merupakan suatu bentuk penghilangan jati diri bahasa Indonesia. Kita ambil contoh 90% sinetron menggunakan bahasa Melayu-Jakarta. Sinetron “Untung tidak selalu Untung” (SCTV), “Soleha” (RCTI), “Hikayah” (Trans), dan “Candy” (RCTI) disebutnya sebagai contoh. Cuplikan sinetron “Untung tidak selalu Untung” yang dicatatnya antara lain “ya deh”, “gua blum bikin PR nih”, “udah deh, PR gua nggak perlu dibacain”, “baru tau rasak, lho”. Jika bahasa ini diungkap kepada orangtua yang hanya mengerti bahasa Indonesia, tentu mereka tak mengerti.

Penulis mencoba mencermati penggunaan oleh para pesohor seni seperti pemain film, penyanyi, dan pembawa acara televisi. Saat mereka berbicara dalam acara televisi yang bersifat informal, mereka lebih menggunakan bahasa “gaul” yang pada intinya juga sebuah bahasa pijin. Mereka berbahasa seenaknya, tidak sadar bahwa mereka tidak terbatas berada di studio televisi. “Lu ngomong dong. Enak aja.”, “Gue ngadepin biasa aja.”, “Kayak gini, ngapain pegang-pegang.” merupakan contoh cuplikan pembawa acara dan pesohor yang dicatatnya dalam acara “Infotainmen” dan “Ada Gosip”.

E. PERANAN MEDIA MASSA

Dalam fungsinya sebagai media pendidikan, media massa berkewajiban memasyarakatkan bahasa Indonesia. Media harus menjadi teladan dan pelopor dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Namun, dalam praktiknya, banyak yang mengingkari.

Ketidakseragaman istilah dapat merusak bahasa Indonesia. petelevisian di Indonesia sudah menganggap bahwa bahasa kasar merupakan hal yang biasa. Bahasa kasar merupakan bentuk kekerasan verbal dan diyakini membawa pengaruh tidak baik bagi perkembangan emosi dan budi pekerti. “Diam, tolol” dan “Kalau nongol, mukanya dipecahin” menjadi contoh bahasa kasar yang dianggap lucu dalam lawakan “Tawa Sutra”. “Di luar negeri, stasiun televisi yang menyiarkan bahasa kasar, ada sanksinya. Di sini malah biasa. Tak mengherankan, perilaku kasar adalah hal yang biasa dalam masyarakat kita.

Terjadinya perbedaan penggunaan kata itu karena perbedaan pedoman pembentukan istilah atau penyerapan bahasa asing antara Pusat Bahasa dan kalangan pers. Perbedaan cita rasa yang hendak dilekatkan pada istilah asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Anggapan dari kalangan pers bahwa pusat bahasa lamban dalam menyerap dan membakukan bahasa asing ke bahasa Indonesia, sehingga kalangan pers melakukan pembakuan secepatnya dengan cara masing-masing yang berbeda.

F. UPAYA YANG PERLU DILAKUKAN

Mengatur penggunaan bahasa merupakan hal yang sangat sulit dikarenakan beberapa faktor yaitu, yang pertama dialek daerah masing-masing yang sangat melekat tiap individu dan yang sekarang tengah berkembang di Indonesia adalah penggunaan bahasa gaul. Sulitnya melepaskan cara berbahasa ini diikuti dengan jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar maka akan sangat sulit bagi pemerintah untuk mengimplementasikan Undang-Undang Kebahasaan ini dalam masyarakat.

Maka menurut saya sebaiknya tujuan pemerintah untuk mengatur penggunaan bahasa ini dimulai dari hal-hal yang sederhana, misalnya memulai penggunaan bahasa Indonesia yang baku dalam lingkungan pendidikan dimulai dari tingkat pendidikan yang rendah. Saya maksudkan di sini, kita melihat bahwa dalam lingkungan kampus mahasiswa yang menggunakan bahasa Indonesia yang baku sangat jarang bahkan tidak ada, oleh sebab itu Undang-Undang Kebahasaan ini sebaiknya mulai diimplementasikan dalam lingkungan pendidikan.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Bahasa yang digunakan dalam sinetron atau media massa kebanyakkan menggunakan bahasa yang dapat merusak dan mencemari bahasa indonesia. Mereka menggunakan bahasa-bahasa yang kasar dan tidak mendidik. Di samping itu, penggunaan bahasa indonesia oleh tokoh-tokoh persinetronan dan pembawa tayangan televisi nasional banyak menggunakan bahasa Melayu-Jakarta. Percampuran kosakata Melayu-Jakarta dengan bahasa Indonesia merupakan suatu bentuk penghilangan jati diri bahasa Indonesia.

Mengatur penggunaan bahasa merupakan hal yang sangat sulit dikarenakan beberapa faktor yaitu, yang pertama dialek daerah masing-masing yang sangat melekat tiap individu dan yang sekarang tengah berkembang di Indonesia adalah penggunaan bahasa gaul.

B. Saran

Melihat akan bahayanya bahasa yang digunakan oleh pesinetron dan para pembawa acara televisi, penulis menyarankan kepada pembaca agar selalu waspada terhadap pencemaran bahasa Indonesia yang dilakukan oleh para pesohor tersebut. Jika dibiarkan mereka akan lebih semena-mena melakukan “perkosaan” terhadap bahasa Indonesia.

Untuk itu, pembaca harus lebih jeli lagi dalam menyeleksi bahasa yang digunakan sehari-hari. Agar norma kesopanan yang di miliki oleh masyarkat Indonesia selalu terjaga dan terpelihara dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA

Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1996. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan & Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Jakarta: CV Pustaka Setia.

One comment on “Pengaruh Bahasa Sinetron Dan Medaia Masa Terhadap Bahasa Indonesia

  1. sinetron tv itu tidak lain bentuk pengajaran yang paling efektif. cara tersebut mampu membentuk kepribadian bangsa. seperti kita lihat bahwa sinetron yang ada sekarang adalah mengajari penonton untuk memanjakan emosi didalam menyelesaikan kasus. berteriak, melempar sesuatu, menampar, memukul, memaki, melotot, membunuh, memfitnah ohhhh lengkap sekali materi perusakan kepribadian yang di berikan. mampukah dinas pendidikan bertindak tegas dalam hal ini? atau memang disengaja aar negara dalam keadaan chaos? ohhh indonesia rayaku sungguh ibu pertiwi sedang bersusah hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s